PENGEMBANGAN SOSIO-ONOMASTIKA DI INDONESIA: TINJAUAN KINI DAN POTENSI DI MASA DEPAN

Fajar Erikha, Multamia R.M.T. Lauder, Frans Asisi Datang

Abstract


Penelitian berlatar onomastika mulai menggeliat akhir-akhir ini. Hal ini terlihat dalam penerbitan publikasi ilmiah dan ilmiah populer yang dilakukan tidak hanya mereka yang berlatar linguistik, tetapi juga ilmu-ilmu lainnya yang beririsan. Sementara itu, kebutuhan untuk mengkaji aspek sosial pada nama dan penamaan mulai ada karena nama hadir, diproduksi, digunakan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Di Eropa, aspek sosial pada nama dibahas dalam kerangka sosiolinguistik sehingga kemudian disebut juga sebagai sosio-onomastika. Artikel ini mengeksplorasi onomastika, khususnya sosio-onomastika dalam cakupan tiga teoretik dasar dan lanjutan yaitu Onomastika Setempat, Kelekatan Toponimi, dan Lanskap Linguistik serta seperti apa potensi pengembangannya di kemudian hari. Guna mendapatkan gambaran komprehensif, dilakukanlah penelusuran literatur onomastika, khususnya sosio-onomastika baik berupa kajian teoretis maupun studi empiris. Artikel ini menyimpulkan kajian sosio-onomastika dengan latar Indonesia masih terbatas sehingga perlu dikembangkan lebih lanjut agar terbentuk konstruksi teoretis yang lebih kaya dan tidak Barat-sentris. Diskusi berikutnya juga diperlukan agar studi berbasis sosio-onomastika dapat digunakan oleh praktisi nama-penamaan maupun pembuat kebijakan publik.


Keywords


onomastika; sosio-onomastika; nama dan penamaan; sosiolinguistik nama;

References


Ainiala, T. (2016a). Attitudes to Street Names in Helsinki. In L. Kostanski & G. Puzey (Eds.), Names and Naming: People, Places, Perceptions and Power (pp. 166–186). Multilingual Matters.

Ainiala, T. (2016b). Names in Society. In C. Hough (Ed.), The Oxford Handbook of Names and Naming (pp. 447–459). Oxford University Press.

Ainiala, T., & Östman, J.-O. (2017). Introduction: Socio-onomastics and pragmatics. In T. Ainiala & J.-O. Östman (Eds.), Socio-onomastics. The pragmatics of names (pp. 2–18). John Benjamins.

Ainiala, T., & Vuolteenaho, J. (2006). How to study urban onomastic landscape? In Acta onomastica (pp. 58–63). Ustav pro jazyk cesky AV CR.

Alhaug, G., & Saarelma, M. (2017). Naming of children in Finnish and Finnish-Norwegian families in Norway. In T. Ainiala & J.-O. Östman (Eds.), Socio-onomastics. The pragmatics of names (pp. 70–91). John Benjamins.

Allerton, D. J. (1987). The linguistic and sociolinguistic status of proper names What are they, and who do they belong to? Journal of Pragmatics, 11(1), 61–92. https://doi.org/https://doi.org/10.1016/0378-2166(87)90153-6

Bachtiar, T. (2019). Toponimi. Susur Galur Nama Tempat di Jawa Barat. Layung.

Bachtiar, T., Soetisna, E. R., & Permadi, T. (2008). Toponimi Kota Bandung. Bandung Art & Culture Council.

Bachtiar, T., Soetisna, E. R., Permadi, T., & Widjaya, A. S. (2017). Toponimi Kota Bandung. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung.

Bachtiar, Titi. (2021). Menyoal Penggantian Nama Jalan Tol Japek. AyoBandung.Com. https://www.ayobandung.com/netizen/pr-79726125/menyoal-penggantian-nama-jalan-tol-japek#.YMHeYNSTx7B.whatsapp

Backhaus, P. (2006). Multilingualism in Tokyo: A look into the linguistic landscape. In Linguistic landscape: A new approach to multilingualism (pp. 52–66). Multilingual Matters Ltd.

Bailey, B., & Lie, S. (2013). The Politics of Names among Chinese Indonesians in Java. Journal of Linguistic Anthropology, 23(1), 21–40. http://remote-lib.ui.ac.id:2063/stable/43103106

Bigon, L., & Dahamshe, A. (2014). An Anatomy of Symbolic Power: Israeli Road-Sign Policy and the Palestinian Minority. Environment and Planning D: Society and Space, 32(4), 606–621. https://doi.org/10.1068/d2613

Budiono, S., Ferdiansyah, H., & Saputri, T. D. (2021, June). Minority names and geographical names in a multilingual setting: Sanggau, West Kalimantan, Indonesia. UNGEGN Information Bulletin: Minority Names and Geographical Names in a Multilingual Setting, 18019. https://unstats.un.org/unsd/ungegn/pubs/Bulletin/UNGEGN_bulletin_no.61.pdf

Carey, P. (2015). Jalan Malioboro ('Jalan Berhiaskan Untaian Bunga’). In P. Carey (Ed.), Asal Usul Nama Yogyakarta dan Malioboro (pp. 7–40). Komunitas Bambu.

Da Silva, A. M. (2017). Exploring the language choice of the non-commercial signs in Jakarta. Indonesian Journal of Applied Linguistics, 7(2), 467–475.

da Silva, A. M., Tjung, Y. N., Wijayanti, S. H., & Suwartono, C. (2021). Language use and tourism in Yogyakarta; The linguistic landscape of Malioboro. Wacana. Jurnal Ilmu Pengetahuan Budaya, 22(2), 295–318.

Datang, F. A., Munawarah, S., Triwinarti, W., & Lauder, M. R. M. T. L. (2020). Signage in Public Spaces: Impact of Tourism on the Linguistic Landscape of Labuan Bajo.

De Stefani, E. (2016). Names and Discourse. In C. Hough (Ed.), The Oxford Handbook of Names and Naming (pp. 52–66). Oxford University Press.

Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Kota Yogyakarta. (2007). Toponim Kota Yogyakarta (D. Gupta, T. Handayani, D. Harnoko, & P. Yuliani (eds.)). Dinas Pariwisata, Seni, dan Budaya Kota Yogyakarta.

Erikha, F. (2018a). Konsep Lanskap Linguistik pada Papan Nama Jalan Kerajaan (Râjamârga): Studi Kasus di Kota Yogyakarta. Paradigma, Jurnal Kajian Budaya, 8(1), 38–52. https://doi.org/10.17510/paradigma.v8i1.231

Erikha, F. (2018b). Pengubahan Nama Jalan di Kota Yogyakarta: Sebuah Kajian Sosio-onomastik. Universitas Indonesia.

Erikha, F. (2021). Application of The Concept of Critical Toponymies to Street Name Changes in Bandung, Yogyakarta and Surabaya. Paradigma, Jurnal Kajian Budaya, 11(1), 25–41. https://doi.org/10.17510/paradigma.v11i1.373

Erikha, F. (2018c). Geliat Aksara dan Bahasa Ganda dalam Papan Nama Jalan di Indonesia. Kumpulan Makalah Seminar Dan Lokakarya Pengutamaan Bahasa Negara. Lanskap Bahasa Di Ruang Publik: Dimensi Bahasa, Sejarah, Dan Hukum, 226–238.

Erikha, F., Budiono, S., Dewi, S., Saputri, T. D., Yulianti, S., & Ferdiansyah, H. (2021). Buku Petunjuk Teknis Penelitian Toponimi. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

Erikha, F., & Lauder, M. R. M. T. (2020). Lanskap Linguistik Sebagai Peranti Mempromosikan Pariwisata di Kota Bandung Selama Pelaksanaan Kebiasaan Baru. E-Prosiding Inusharts 2020, 182–200.

Erikha, F., & Lauder, M. R. M. T. L. (2021). Toponimi di jantung Kota Yogyakarta: dari perspektif kebahasaan hingga psikologi sosial. LIPI Press.

Erikha, F., Wuryandari, N. W., Munawarah, S., & Lauder, M. R. (2021). Toponimi dan Budaya dalam Lanskap Semiotik. In U. Yuwono, F. X. Rahyono, & T. Christomy (Eds.), Semiotika: Mencerap Tanda, Mendedah Makna. Persembahan bagi Profesor Benny Hoedoro Hoed, Pembangun Fondasi Pengkajian Semiotika di Indonesia (pp. 163–180). Wedatama Widya Sastra dan Departemen Linguistik Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Hamdi, I., & Dewi, C. M. T. (2018). Komunitas Betawi Buat Petisi Tolak Penggantian Nama Jalan Buncit. Tempo.Co. https://metro.tempo.co/read/1056012/komunitas-betawi-buat-petisi-tolak-penggantian-nama-jalan-buncit/full&view=ok

Han, Y., & Wu, X. (2019). Language policy, linguistic landscape and residents’ perception in Guangzhou, China: dissents and conflicts. Current Issues in Language Planning, 1–25. https://doi.org/10.1080/14664208.2019.1582943

Hough, C. (2016). Introduction. In C. Hough (Ed.), The Oxford Handbook of Names and Naming (pp. 1–16). Oxford University Press.

Jayanti, A. (2018). Variasi Lanskap Bahasa Ruang Publik di Yogyakarta. Kumpulan Makalah Seminar Dan Lokakarya Pengutamaan Bahasa Negara. Lanskap Bahasa Di Ruang Publik: Dimensi Bahasa, Sejarah, Dan Hukum, 214–225.

Kallen, J. (2009). Tourism and Representation in the Irish Linguistic Landscape. In Elena Shohamy & D. Gorter (Eds.), Linguistic Landscape: Expanding the Scenery (pp. 270–284). Routledge.

Kostanski, L. (2009). ‘What’s in a Name?’: Place and Toponymic Attachment, Identity and Dependence. A case study of the Grampians (Gariwerd) National Park name restoration process. University of Ballarat.

Kostanski, L. (2016a). The Controversy of Restoring Indigenous Names: Lessons Learnt and Strategies for Success. In L. Kostanski & G. Puzey (Eds.), Names and Naming: People, Places, Perceptions and Power (pp. 129–165). Multilingual Matters.

Kostanski, L. (2016b). Toponymic attachment. In C. Hough (Ed.), The Oxford Handbook of Names and Naming (Issue July 2018, pp. 1–18). Oxford University Press. https://doi.org/10.1093/oxfordhb/9780199656431.013.42

Kridalaksana, H. (2011). Kamus Linguistik. Edisi Keempat. Gramedia Pustaka Utama.

Kulsum, U., Sutini, L., Harijatiwidjaja, N., Saptarini, T., & Mulyanah, A. (2008). Nama Tempat di Kota Bandung yang berhubungan dengan Air: Tinjauan Antropolinguistik. Balai Bahasa Bandung.

Landry, R., & Bourhis, R. Y. (1997). Linguistic Landscape and Ethnolinguistic Vitality: An Empirical Study. Journal of Language and Social Psychology, 16(1), 23–49. https://doi.org/10.1177/0261927X970161002

Lauder, Allan F., & Lauder, M. R. M. T. (2015). Ubiquitous place names Standardization and study in Indonesia. Wacana, 16(2), 383–410.

Lauder, Allan Frank, & Lauder, M. R. M. T. (n.d.). Place Names and Cultural Heritage in an Archipelagic Country. In Toponymy Training Manual. United Nations Group of Experts on Geographical Names/. https://unstats.un.org/unsd/geoinfo/UNGEGN/docs/CHAPTER 25.pdf

Lauder, M. R. M. T. (2021). Konsiderasi Penamaan Rupabumi Jalan MBZ Sheikh Mohamed bin Zayed. Kompas.Id. https://www.kompas.id/baca/opini/2021/05/15/konsiderasi-penamaan-rupabumi-jalan-sheikh-mohamed-bin-zayed/

Lauder, M. R. M. T. L., Susanti, N., Wuryandari, N. W., & Suratminto, L. (2015). Penelusuran Bangsa Maritim sebagai Identitas Bangsa Indonesia melalui Penelisikan Pelabuhan-pelabuhan Kuno di Jawa.

Lou, J. J. (2016). The Linguistic Landscape of Chinatown A Sociolinguistic Ethnography. Multilingual Matters.

Macdonald, G. M. (1995). Indonesia’s Medan Merdeka: National Identity and The Built Environment. Antipode, 27(3), 270–293.

Metro-roland, M. M. (2011). Tourists, Signs, and the City. The Semiotics of Culture in an Urban Landscape. Ashgate.

Moriarty, M. (2014). Contesting language ideologies in the linguistic landscape of an Irish tourist town. International Journal of Bilingualism, 18(5), 464–477.

Muhatta, Z. (2019). Bandar-bandar di Jalur Rempat Pantai Utara Pulau Jawa (Abad ke-15 sampai 19): Kajian Toponimi. Universitas Indonesia.

Naumann, H. (1984). Soziolinguistische Aspekte der Onomastik. Zeitschrift Für Phonetik, Sprachwissenschaft Und Kommunikationsforschung, 37(2), 247. https://www.proquest.com/scholarly-journals/soziolinguistische-aspekte-der-onomastik/docview/1299534774/se-2?accountid=17242

Niedzielski, N. A., & Preston, D. R. (2000). Folk Linguistics (De Gruyter Mouton (ed.)). https://doi.org/https://doi.org/10.1515/9783110803389

Nyström, S. (2016). Names and Naming. In C. Hough (Ed.), The Oxford Handbook of Names and Naming (pp. 39–51). Oxford University Press.

Perdana, A. P. (2021). Fenomena Penamaan Unsur Geografis: Penggunaan Nama Orang yang Masih Hidup. Kumparan.Com. https://kumparan.com/aji-putra-perdana/fenomena-penamaan-unsur-geografis-penggunaan-nama-orang-yang-masih-hidup-1vw2ieVCuku/full

Piller, I. (2010). Sex in the City: On Making Space and Identity in Travel Spaces. In A. Jaworski & C. Thurlow (Eds.), Semiotic Landscapes. Language, Image, Space (pp. 123–136). Continuum.

Purnanto, D., & Ardhian, D. (2020). The Linguistic Landscape of Street Signs in Malang City, Indonesia. Talent Development & Excellence, 2(1), 120–133.

Puzey, G. (2016). Linguistic Landscapes. In C. Hough (Ed.), The Oxford Handbook of Names and Naming (pp. 395–411). Oxford University Press.

Rais, J., Lauder, M. R. M. T., Sudjiman, P., Ayatrohaedi, Sulistiyo, B., Wiryaningsih, A., Suparwati, T., & Santoso, W. E. (2008). Toponimi Indonesia. Sejarah budaya yang panjang dari permukiman manusia dan tertib administrasi. Pradnya Paramita.

Redaksi AyoBandung.com. (2015). 15 Jalan di Bandung Ini Gunakan Nama Orang Asing. AyoBandung.Com. https://www.ayobandung.com/baheula/pr-79607292/15-jalan-di-bandung-ini-gunakan-nama-orang-asing?page=all

Ruchiat, R. (2011). Asal-usul Nama Tempat di Jakarta. Komunitas Bambu.

Scollon, R., & Scollon, W. S. (2003). Discourse in Place. Language in the Matherial World. Routledge.

Sobarna, C., Gunardi, G., & Wahya, W. (2018). Toponimi Nama Tempat Berbahasa Sunda di Kabupaten Banyumas. Panggung, 28(2), 147–160. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.26742/panggung.v28i2.426

Spolsky, B. (2009). Prolegomena to a sociolinguistic theory of public signage. In Elana Shohamy & D. Gorter (Eds.), Linguistic Landscape: Expanding the Scenery (pp. 25–39). Routledge. https://doi.org/10.4324/9780203930960

Sulistyowati, N. A., & Priyatmoko, H. (2019). Toponim Kota Yogyakarta (T. Wulandari (ed.)). Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan - Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Suratminto, L. (2017). Nama-nama Tempat di Jakarta dan Kaitannya dengan Masa Kolonial. Seminar Nasional Toponimi, 37–54. https://linguistik.fib.ui.ac.id/wp-content/uploads/sites/46/2017/05/3.-Lili-Suratminto.pdf

Susanti, N., Lauder, M. R. M. T., Wuryandari, N. W., Rahayu, A., & Munawarah, S. (2016). Rekam Jejak Relokasi Pemukiman di Jakarta: Kajian Toponimi Wilayah Kalijodo, Kampung Pulo, dan Luar Batang-Pasar Ikan.

Tadié, J., & Permanadeli, R. (2015). Night and the city: Clubs, brothels and politics in Jakarta. Urban Studies, 52(3), 471–485. https://doi.org/10.1177/0042098014537692

Taylor, S. (2016). Methodologies in Place-name Research. In C. Hough (Ed.), The Oxford Handbook of Names and Naming (pp. 99–119). Oxford University Press. https://doi.org/10.1093/oxfordhb/9780199656431.013.17

Tent, J. (2015). Approaches to Research in Toponymy. Names, 63(2), 65–74. https://doi.org/10.1179/0027773814Z.000000000103

Tent, J., & Blair, D. (2011). Motivations for Naming: The Development of a Toponymic Typology for Australian Placenames. Names, 59(2), 67–89. https://doi.org/10.1179/002777311X12976826704000

Van Langendonck, W. (2007). Theory and Typology of Propoer Names. Mouton de Gruyter.

Waksman, S., & Shohamy, E. (2020). Exploring the Mediation Styles of LL Sites by Tourist Guides. Advances in Sociolinguistics. In D. Malinowski & S. Tufi (Eds.), Reterritorializing Linguistic Landscapes_ Questioning Boundaries and Opening Spaces (pp. 199–214). Bloomsbury Academic.

Wardany, I. (2015). Toponimi Nama Stasiun Kereta Api Commuter Jabodetabek: Sebuah Kajian Linguistik. Universitas Indonesia.

Wardany, I. (2021). Toponimi Nama Stasiun Kereta Api Comuter di Jabodetabek: Sebuah Kajian Etimologi dan Semiotika. In U. Yuwono, F. X. Rahyono, & T. Christomy (Eds.), Semiotika: Mencerap Tanda, Mendedah Makna. Persembahan bagi Profesor Benny Hoedoro Hoed, Pembangun Fondasi Pengkajian Semiotika di Indonesia (pp. 217–241). Wedatama Widya Sastra dan Departemen Linguistik Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Widiyanto, G. (2018). Pemakaian Bahasa Indonesia dalam Lanskap Linguistik di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Kumpulan Makalah Seminar Dan Lokakarya Pengutamaan Bahasa Negara. Lanskap Bahasa Di Ruang Publik: Dimensi Bahasa, Sejarah, Dan Hukum, 134–145.

Wu, H., Techasan, S., & Huebner, T. (2020). A new Chinatown? Authenticity and conflicting discourses on Pracha Rat Bamphen Road. Journal of Multilingual and Multicultural Development, 1–19. https://doi.org/10.1080/01434632.2020.1746318

Xiao, R., & Lee, C. (2019). English in the linguistic landscape of the Palace Museum: a field-based sociolinguistic approach. Social Semiotics, 1–20. https://doi.org/10.1080/10350330.2019.1697542

Zoetmulder, P. J. (1995). Kamus Jawa Kuna Indonesia. Gramedia Pustaka Utama.




DOI: https://doi.org/10.26499/kelasa.v16i2.213

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Kelasa Indexed By

PKP IndexCrossrefCrossrefOne SearchMorarefRoad

 

 

 

 Creative Commons License  

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.


@2019 


KANTOR BAHASA PROVINSI LAMPUNG

Kompleks Gubernuran, Jalan Beringin II No. 40, Kec. Telukbetung Selatan, Bandarlampung, Lampung 35221 

 

View My Stats